MANUSIA DAN KEINDAHAN


Keindahan atau estetika berasal dari bahasa Yunani yang berarti merasakan to sense, ataupun juga to perceive. Pengalaman keindahan termasuk kedalam tingkat persepsi dalam pengalaman yang telah dialami oleh seoarang manusia biasanya ini bersifat visual ataupun juga terdengar walaupun tidak terbatas pada dua bidang tersebut. Pengalaman keindahan ini mungkin ada hubungannya dengan rasa sentuh, rasa, ataupun juga bau. Pengalaman keindahan mencakup penyerapan perhatian yang sangat menyenangkan yang didalamnya pengalaman perseptual sejauh ia timbul dari pandangan yang sepi dari rasa pamrih terhadap sesuatu fenomena, baik yang alamiah ataupun juga yang yang disebut manusia. Emosi estetis dapat dibangkitkan karena hasil-hasil kesenian ketika seniman berusaha menimbulkan respons ataupun dapat dibangkitkan oleh macam-macam objek atau pengalaman yang terjadi secara tak tertuangkan ke dalam sebuah kehidupan sehari-hari.
Orang yang mempunyai konsep keindahan terbatas jumlahnya. Orang tersebut sibuk dengan segala pemikirannnya mengenai imajinasi, sebab imajinasi merupakan tititk pusat konsep keindahan di dalam sebuah keindahan segala sesuatu yang rendah dan tak bernilai dapatlah berarti, contohnya tembakau dan sebagainya. Demikian pula keindahan dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat sesaat, yaitu yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu seseorang yang melalui asosiasi dapat menimbulkan yang indah di dalam sebuah pikirannya. Hal ini lainnya yang berpengaruh terhadap keindahan adalah sebuah imajinasi. Di dorong oleh sublimitas sebagai akibat kebebasan menyendiri dan hikmah ketidakberdosaan akan timbul keindahan. Dengan ini semangat mengali kreativitas keindahaan dapat dihasilkan.
Konsep keindahan adalah abstrak dan tidak dapat berkomunikasi sebelum diberi bentuk. Oleh karena itu, banyak pemikir yang tidak puas terhadap pendapat yang menyatakan bahwa keindahan itu adalah meniru dari alam. Dan meniru alam belum tentu menciptakan keindahan. Melalui proses mencari dan pemberian bentuk imajinasinya, seseorang akan mencapai keindahan. Keingintahuan dan dambaan akan keindahan akan membantu keindahan.
Batasan keindahan sulit dirumuskan karena keindahan itu abstrak identik dengan kebenaran. Maka batas keindahan terhenti pada sesuatu yang indah dan bukan pada “keindahan sendiri”. Keindahan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, sedangkan yang tidak ada keindahannya tidak mengandung kebenarannya. Konsep keindahan dapat berkomunikasi dengan penciptanya sendiri setelah ada bentuk yang diberikan imajinasi. Sesuatu yang indah adalah abadi, sebab yang indah memberikan suka cita yang mendalam dan daya tariknya selalu bertambah. Sifat yang indah adalah universal, tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu, dan tempat. Hal ini terjadi sebab pada hakitatnya setiap orang, dimana pun dan kapan pun, mempunyai sikap yang sama dalam menghadapi sesuatu yang indah yaitu sikap simpati dan sikap empati.
Dalam membicarakan manusia dan tuhannya, kita tidak luput dari kata-kata indah demikian pula kata indah diterapkan untuk persatuan dan persahabatan yang sangat indah. Pendek kata, keindahan memiliki dimensi interaksi yang sangat luas, baik untuk hubungan manusia dengan benda, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan tuhannya atau pun bagi manusia itu sendiri yang melakukan interaksi    

HUBUNGAN MANUSIA DAN KEINDAHAN
Manusia dan keindahan memang tak bisa dipisahkan sehingga diperlukan pelestarian bentuk keindahan yang dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya manjadi bagian dari kebudayaannya yang dapat dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur politik. Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial, dan budaya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun kapan pun dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran disini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
Manusia menikmati keindahan berarti manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman  keindahan biasanya bersifat terlihat (visual) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas pada dua bidang tersebut.
keindahan tersebut pada dasarnya adalah almiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu adalah wajar tidak berlebihan dan tidak kurang. Konsep keindahan itu sendiri sangatlah abstrak ia identik dengan kebenaran. Batas keindahan akan behenti pada pada sesuatu yang indah dan bukan pada keindahan itu sendiri. Keindahan mempunyai daya tarik yang  selalu bertambah,  sedangkan yang tidak ada unsur keindahanya tidak mempunyai daya tarik. Orang yang mempunyai konsep keindahan adalah orang yang mampu berimajinasi, rajin dan kreatif dalam menghubungkan benda satu dengan yang lainya. Dengan kata lain imajinasi merupakan proses menghubungkan suatu benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi. Demikian pula kata indah diterapkan untuk persatuan orang-orang yang beriman, para nabi, orang yang menghargai kebenaran dalam agama, kata dan perbuatan serta orang –orang yang saleh merupakan persahabatan yang paling indah.
Jadi keindahan mempunyai dimensi interaksi yang sangat luas baik hubungan manusia dengan benda, manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan bagi orang itu sendiri yang melakukan interaksi.
Pengungkapan keindahan dalam karya seni didasari oleh motivasi tertentu dan dengan tujuan tertentu pula. Motivasi itu dapat berupa pengalaman atau kenyataan mengenai penderitaan hidup manusia, mengenai kemerosotan moral, mengenai perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, mengenai keagungan Tuhan, dan banyak lagi lainnya. Tujuannya tentu saja dilihat dari segi nilai kehidupan manusia, martabat manusia, kegunaan bagi manusia secara kodrati.
Ada beberapa alasan mengapa manusia menciptakan keindahan, yaitu sebagai berikut:
1)      Tata nilai yang telah usang
Tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang merugikan dan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya kawin paksa, pingitan, derajat wanita lebih rendah dari derajat laki-laki. Tata nilai semacam ini dipandang sebagai mengurangi nilai moral kehidupan masyarakat, sehingga dikatakan tidak indah.
2)      Kemerosotan Zaman
Keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejat terutama dari segi kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual ini dipenuhinya tanpa menghiraukan ketentuan-ketentuan hukum agama, dan moral masyarakat. Yang demikian itu dikatakan tidak baik, yang tidak baik itu tidak indah. Yang tidak indah itu harus disingkirkan melalui protes yang antara lain diungkapkan dalam karya seni.
3)      Penderitaan Manusia
Banyak faktor yang membuat manusia itu menderita. Tetapi yang paling menentukan ialah faktor manusia itu sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita sebagai akibat nafsu ingin berkuasa, serakah, tidak berhati-hati dan sebagainya. Keadaan demikian ini tidak mempunyai daya tarik dan tidak menyenangkan, karena nilai kemanusiaan telah diabaikan, dan dikatakan tidak indah. Yang tidak indah itu harus dilenyapkan karena tidak bermanfaat bagi kemanusiaan.
4)      Keagungan Tuhan
Keagungan Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian alam. Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan Tuhan. Manusia hanya dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan itu. Seindah-indah tiruan terhadap ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri. Kecantikan seorang wanita ciptaan Tuhan membuat kagum seniman Leonardo da Vinci. Karena itu ia berusaha meniru ciptaan Tuhan dengan melukis Monalisa sebagai wanita cantik. Lukisan monalisa sangat terkenal karena menarik dan tidak membosankan.

C.     CARA-CARA UNTUK MENGETAHUI SUATU KEINDAHAN
1.        Renungan

Renungan berasal dari kata renunag, merenung artinya dengan diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Setiap orang pernah merenung. Sudah tentu kadar renungannya satu sama lain berbeda, meskipun obyek yang direnungkan sama, lebih pula apabila obyek renungannya berbeda. Jadi apa yang direnungkan itu bergantung kepada obyek dan subyek.

2.      Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi-serasi dari kata dasar rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok sesuai atau kena mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang. Keserasian identik dengan keindahan. Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak indah. Karena itu sebagian ahli pikir berpendapat, bahwa keindahan ialah sejumlah kualitas pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal.
3.      Kehalusan
Kehalusan berasal dari kata halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus.
Halus itu berarti suatu sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil maupun dalam masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar atau sikap orang-orang yang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku sikap orang yang sedang bermusuhan. Oleh karena itu kehalusan dapat menunjukan nilai keindahan seseorang dan sikap kasar bisa mengurangi nilai keindahan dari seseorang.

4. Kontemplasi
Suatu proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai makna, manfaat, dan tujuan, atau niat hasil penciptaan. Disamping itu seni menurut waetaknya akan berpadu dengan keindahan karena itu menurut logika deduktif dapat dikatakan bahwa keindahan dalam seni juuga harus di kontemplasikan.

MANUSIA DAN CINTA KASIH


Kosakata cinta mengandung unsur perasaan aktif yang juga menyatakan suatu tindakan yang sangat aktif. Secara pengertiannya sama dengan kasih sayang, sehingga kalau seseorang mencintai orang lain  sama artinya orang itu berperasaan kasih sayang ataupun orang tersebut sangatlah berperasaan suka terhadap orang lain tersebut. Cinta memegang peranan yang sangat penting di dalam kehidupan di masyarakat, sebab cinta merupakan sebuah landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang sangat erat bila di kaitkan dengan masyarakat dan hubungan manusiawi yang sangatlah akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhan-Nya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti segala perintah-perintah-Nya dan berpegang teguh kepada syariat-Nya.
 Dalam Kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk, mulai dari seseorang yang mencinati dirinya sendiri, istrinya, anaknya, hartanya, dan Tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada diri manusia, potensi dan frekuensinya berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Di dalam kehidupan sehari-hari yang kita dapat amati, pada saat kita belum berkeluarga, seseorang pasti lebih kuat cintanya dan juga kasih sayangnya kepada orang tua. Sedangkan cinta seseorang kepada orang banyak memerlukan didikan dan juga sebuah perjuangan. Yang memandang sesama manusia sebagai kecintaan yang perlu di bela. Cinta seperti ini dapat dikatakan dalam rangka perangkai utama itu mengandung kejujuran, amanat, dan keadilan. Apabila cinta seseorang telah tumbuh, berarti orang tersebut mengandung hikmat yang menuntut dirinya kepada kebenaran, kebijakan dan pengorbanan. Berbagai cinta dapat di uraikan sebagai berikut.
Cinta Diri
Secara alamiah manusia mencintai dirinya sendiri. Sebaliknya, manusia membenci segala sesuatu yang menghalangi hidupnya. Manusia membenci segala sesuatu yang pada akhirnya mendatangkan penderitaan, rasa sakit dan segala marabahaya lainnya. Cinta diri sangat erat kaitannya dengan menjaga diri sendiri. Manusia menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan sangat berguna bagi dirinya sendiri. Hal yang timbul pada era sekarang manusia lebih mencintai dan sangatlah erat kaitannya dengan kecintaan terhadap harta benda. Karena manusia menganggap harta benda sudah mendarah daging guna mencapai kehidupan yang senang dan kemewahan. Hal sebaliknya cinta yang mulia dapat hilang apabila seseorang sangat terlalu mencintai secara berlebihan apa yang dimilikinya. Kecintaan ini dapat dibuktikan apabila seseorang tertimpa malapetaka ataupun kesulitan dan manusia pun akan berkeluh kesah.
Cinta Kepada Sesama Manusia
Cinta kepada manusia ini banyak dilukiskan atau diimplementasikan oleh seorang pembawa kebenaran (nabi) atau oleh sekelompok orang. Cinta kepada manusia merupakan watak manusia itu sendiri, selain itu watak manusia sebagai pembenci terhadap sesama manusia lainnya. Biasanya manusia akan mudah membenci atau kurang memperhatikan orang lain apabila manusia  itu sendiri mendapatkan kesenangan.
Cinta Menurut Ajaran Agama
Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Akan tetapi di dalam suatu kenyataan hidup manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Dari dasar ini, agama memberikan ajaran cinta antar sesama manusia. Di ajaran agama ini rasa cinta haruslah lebih proposional dan adil dan janganlah terlalu terlena dengan cinta. Untuk itu agama memberikan tuntunan tentang cinta. Berbagai bentuk cinta ini terdapat di dalam Al-Qur’an.
·         Cinta Kepada Allah
Puncak dari cinta manusia yang paling bening, jernih, dan spiritual adalah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya shalat, pujian, dan doanya, tetapi semua tindakan dan tingkah lakunya ditujukan kepada Allah SWT. Cinta seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada segalanya sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, anak-anaknya, istrinya, kedua orang tuanya, keluarga dan hartanya. Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan merupakan pendorong dan mengarahkannya kepada penundukan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta kepada Allah akan membuat seseorang menjadi mencintai sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah, dan seluruh alam semesta.
·         Cinta Kepada Rasul-Nya
Cinta kepada Rasul (Nabi Muhammad) merupakan peringkat kedua setelah cinta kepada Allah. Hal ini disebabkan karena Rasul Muhammad SAW bagi kaum muslim merupakan contoh ideal yang sempurna bagi manusia, baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya.
·         Cinta Kepada Ibu-Bapak (Orang Tua)
Cinta kepada orang tua di dalam ajaran agama Islam sangat mendasar menentukan ridho-tidaknya Tuhan kepada Manusia. Khusus mengingatkan cinta kepada orang tua ini, Tuhan memperingatkan kita dengan keras melalui ajaran akhlak mulia dan langsung kepada tata krama.
·         Cinta Kepada Sesama Manusia
Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling mencintai di antara sesama manusia. Dalam Al-Qur’an terdapat pujian bagi kaum Anshar karena rasa cintanya kepada kaum muhajirin. Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) kaum Muhajirin.
·         Cinta Seksual
Cinta erat kaitanya dengan dorongan seksual. Cinta seksual merupakan bagian dari kebutuhan manusia yang dapat melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerja sama antara suami-istri.
·         Cinta Kebapakan
Cinta ibu kepada anaknyaatau dorongan keibuan merupakan dorongan fisiologis artinya terjadi perubahan-perubahan fisiologis dan fisis yang terjadi pada si ibu sewaktu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Dorongan kebapakan tedak seperti dorongan keibuan, tetapi lebih bersifat psikis. Hal ini tampak dalam cinta bapak kepada anaknya karena ia merupakan sumber kesenangan dan kegembiraan baginya. Sumber kekuatan dan kebangaan, dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak di dalam kehidupan dan tetap terkenang dia setelah meninggal dunia.
·         Cinta Diri
Al-Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungan untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan  berguna bagi dirinya dan menghindari darisegala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya.
Cinta Kasih Erotis
Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang lemah yang lemah daya. Walaupun  terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakikatnya cinta kasih tidak terbatas kepada seseorang saja. Di samping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai cara-cara mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan diri sendiri ataupun kehidupan pribadi dirinya. Tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan diri dari segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memprlihatkan kemarahannya, kebencian dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah mencapai diintimitas.


 

MANUSIA DAN KESUSASTRAAN


Secara etimologi (menurut asal-usul kata) kesusastraan berarti karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang pengertian “Kesusastraan” berkembang melebihi pengertian etimologi tersebut. Kata “Indah” amat luas maknanya. Tidak saja menjangkau pengertian-pengertian lahiriah tapi terutama adalah pengertian-pengertian yang bersifat rohaniah. Misalnya, bukankah pada wajah yang jelak orang masih bisa menemukan hal-hal yang indah.
Sebuah cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu.
Ada beberapa nilai yang harus dimiliki oleh sebuah ciptasastra. Nilai-nilai itu adalah : Nilai-nilai estetika, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai yang bersifat konsepsionil. Ketiga nilai tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan sama sekali. Sesuatu yang estetis adalah sesuatu yang memiliki nilai-nilai moral. Tidak ada keindahan tanpa moral. Tapi apakah moral itu? Ia bukan hanya semacam sopan santun ataupun etiket belaka. Ia adalah nilai yang berpangkal dari nilai-nilai tentang kemanusiaan. Tentang nilai-nilai yang baik dan buruk yang universil. Demikian juga tentang nilai-nilai yang bersifat konsepsionil itu. Dasarnya adalah juga nilai tentang keindahan yang sekaligus merangkum nilai tentang moral.
Proses Penciptaan Kesusastraan
Seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ditemukan dalam masyarakat (realitas objektif). Realitas objektif itu dapat berbentuk peristiwa-peristiwa, norma-norma (tata nilai), pandangan hidup dan lain-lain bentuk-bentuk realitas objektif itu. Ia ingin memberontak dan memprotes. Sebelum pemberontakan tersebut dilakukan (ditulis) ia telah memiliki suatu sikap terhadap realitas objektif itu. Setelah ada suatu sikap maka ia mencoba mengangankan suatu “realitas” baru sebagai pengganti realitas objektif yang sekarang ia tolak. Hal inilah yang kemudian ia ungkapkan di dalam ciptasastra yang diciptakannya. Ia mencoba mengutarakan sesuatu terhadap realitas objektif yang dia temukan. Ia ingin berpesan melalui ciptasastranya kepada orang lain tentang suatu yang ia anggap sebagai masalah manusia.
Ia berusaha merubah fakta-fakta yang faktual menjadi fakta-fakta yang imajinatif dan bahkan menjadi fakta-fakta yang artistik. Pesan-pesan justru disampaikan dalam nilai-nilai yang artistik tersebut. Ia tidak semata-mata pesan-pesan moral ataupun khotbah-khotbah tentang baik dan buruk akan tetapi menjadi pesan-pesan yang artistik. Pesan-pesan yang ditawarkan dalam keterpesonaan dan senandung.
Dalam kesusastraan Indonesia masalah itu dengan jelas dapat dilihat. Misalnya kenyataan-kenyataan yang ada sekitar tahun 20-an terutama dalam masyarakat Minangkabau ialah masalah : kawin paksa. Pengarang kita pada waktu itu punya suatu sikap dan tidak puas dengan realitas objektif itu. Sikap itu bersifat subjektif: bahwa ia tidak senang dan memprotes. Akan tetapi sikap itu juga bersifat intersubjektif karena sikap itu dirasakan pula sebagai aspirasi yang umum. Sikap-sikap subjektif dan intersubjektif itulah yang kemudian diungkapkan di dalam ciptasastra-ciptasasra.
Ciptasatra-ciptasastra tiu tidak saja lagi sebagai pernyataan dari sikap akan tetapi juga merupakan pernyataan dari ciri-ciri berhubung dengan realitas objektif tresebut. Diungkapkan dalam suatu transformasi (warna) yang artistik, sesuai dengan ukuran-ukuran (kriteria-kriteria) kesusastraan
Bentuk Kesusastraan
Ada beberapa bentuk kesusastraan :
  • Puisi
  • Cerita Rekaan (fiksi)
  • Essay dan Kritik
  • Drama
Apakah yang membedakan antara puisi dengan cerita rekaan? Perbedaan itu akan terlihat dalam proses pengungkapannya. Dalam puisi akan dijumpai dua proses yang disebut Proses konsentrasi dan proses intensifikasi. Proses konsentrasi yakni proses pemusatan terhadap suatu focus suasana dan masalah, sedang proses intensifikasi adalah proses m pendalaman terhadap suasana dan masalah tersebut. Unsur-unsur struktur puisi berusaha membantu tercapainya kedua proses itu. Inilah hakekat puisi, yang kurang terlihat dalam proses (cerita rekaan, esei dan kritik serta drama). Pada prosa, suasana yang lain atau masalah-masalah yang lain dapat saja muncul di luar suasana dan masalah pokok yang ingin diungkapkan seorang pengarang dalam ciptasastranya.
Cerita-cerita (fiksi) sering dibedakan atas tiga macam bentuk yakni : Cerita pendek (cerpen), novel, dan roman. Akan tetapi di dalam kesusastraan Amerika umpanya hanya dikenal istilah : cerpen (short story) dan novel. Istilah roman tidak ada. Yang kita maksud dengan “roman” dalam kesusastraan Amerika adalah juga “novel”.
Perbedaan antara ketiga bentuk cerita rekaan itu tidaklah hanya terletak pada panjang pendeknya cerita tersebut. Atau pada jumlah kata-katanya. Ada ukuran lain yang membedakannya. Cerita-pendek(cerpen) merupakan pengungkapan suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Daripada tidak dituntut terjadinya suatu perobahan nasib dari pelaku-pelakunya. Hanya suatu lintasan dari secercah kehidupan manusia, yang terjadi pada suatu kesatuan waktu.
Istilah roman bersalah dari kesusastraan Perancis. “Roman” adalah bahasa rakyat sehari-hari di negeri Perancis. Kemudian berkembang artinya menjadi cerita-cerita tentang pengalaman-pengalaman kaum ksatria dan cerita-cerita kehidupan yang jenaka, dari pedesaan. Sekarang pengertian roman telah menyangkut tentang kehidupan manusia pada umumnya.
Hakekat dari cerita rekaan ialah bercerita. Ada yang diceritakan dan ada yang menceritakan.
Bentuk ciptasatra yang lain adalah esei dan kritik. Esei adalah suatu karangan yang berisi tanggapan-tanggapan, komentar, pikiran-pikiran tentang suatu persoalan. Setiap esei bersifat subjektif, suatu pengucapan jiwa sendiri. Di dalam esei bila kita lihat pribadi dan pendirian pengarang. Pikiran-pikirannya, sikap-sikapnya, ciata-citanya dan keinginannya terhadap soal yang dibicarakannya. Atau terhadap hidup pada umumnya. Dalam esei tidak diperlukan adanya suatu konklusi (kesimpulan). Esei bersifat sugestif dan lebih banyak memperlihatkan alternatif-alternatif.
Bentuk kesusastraan yang lain adalah drama atau sandiwara (sandi = rahasia, Wara = pelajaran). Artinya pelajaran yang disampaikan secara rahasia. Drama atau sandiwara yang digolongkan ke dalam ciptasastra bukanlah drama atau sandiwara yang dimainkan (dipergelarkan) tetapi adalah cerita, atau naskah, atau reportoar yang akan dimainkan tersebut.
Hakekat drama adalah terjadinya suatu konflik. Baik konflik antara tokoh, ataupun konflik dalam persoalan maupun konflik dalam diri seorang tokoh. Konflik inilah nanti yang akan mendorong dialog dan menggerakkan action.



MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


Manusia adalah makhluk yang luar biasa kompleks. Kita merupakan paduan antara makhluk material dan makhluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya. Dari pengertian tentang manusia, dapat di lihat bahwa manusia selain dapat dilihat dari berbagai segi pandang, juga mempunyai banyak kepentingan,
Manusia diciptakan oleh Allah SWT membawa potensi  dan tanggung jawab di muka bumi ini. Dengan rasa tanggung jawab dan potensi ini manusia ditunjuk untuk lebih bisa memakmurkan kehidupan bermasyarakat. Potensi dan rasa tanggung jawab ini terdiri dari Naluri, Indera, Akal, dan Agama. Dengan 4 potensi dan rasa tanggung jawab ini muncul berbagai kebudayaan
Akal merupakan keistimewaan manusia dibandingkan dengan hewan, yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk lainnya. Akal adalah kekuatan yang telah diberikan kepada manusia untuk mengetahui hakekat sesuatu, mencegah diri dari segala perbuatan-perbuatan yang jahat dan membantu memberdayakan alam raya ini dengan segala potensi yang dimilikinya. Pada hakekatnya ditundukkan untuk dimanfaatkan demi kemakmuran di bumi.
Manusia memiliki warisan sosial yang menjadi bagian dari kebudayaan. Istilah umumnya culture berarti seluruh warisan sosial umat manusia. Sedangkan istilah khususnya kebudayaan dapat diartikan warisan sosial yang bercorak khusus. Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang terbentuk dari sejumlah besar suatu kebudayaan masing-masing adalah karakteristik sekelompok individu-individu tertentu.
Manusia memiliki kemampuan untuk belajar, saling berkomunikasi dan melangsungkan “learned behavior” dari generasi ke generasi. Di samping itu manusia mempunyai warisan sosial yang berbeda-beda baik yang berwujud corak lokal dan banyak jumlahnya. Adapun Manusia sebagai suatu kepribadian mengandung tiga unsur yaitu:
·           Id merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang irasional dan terkait dengan sex, yang secara instingual menentukan proses-proses ketidak sadaran ( unconcious ).
·           Ego merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dengan id. Seringkali di sebut dengan kepribadian “Eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id kedalam saluran sosial yang dimengerti.
·           Superego merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia lima tahun. Superego terbentuk dari lingkungan internal dalam individu, superego terbentuk dari ligkungan eksternal jadi, superego merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan diri, biasanya merupakan asimilasi dari pandangan- pandangan orang tua (Ferud, dalam Bernnan,1991;Hal:205-206).
Menurut P.J. Zoetmulder dalam Koentjaraningrat (1997:9) menyatakan bahwa kebudayaan berasal dari Bahasa Sansekerta “Buddhayah”, bentuk jamak dari buddhi berarti “budi” atau akal”. Ke-budaya-an diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Ada pendirian lain mengenai asal kata “kebudayaan” ialah bahwa kata itu adalah suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, artinya daya dari budi, kekuatan dari akal.
Kebudayaan merupakan keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu.
Menurut Koentjaraningrat (1997:5), Kebudayaan mempunyai tiga wujud sebagai berikut:
·          Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma
norma, peraturan dan sebagainya.
·          Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia
dalam masyarakat.
·          Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Sedangkan unsur-unsur universal kebudayaan merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia yaitu:
  1. Sistem religi dan upacara keagamaan;
  2. Sistem organisasi kemasyarakatan;
  3. Sitem pengetahuan;
  4. Bahasa;
  5. Kesenian,
  6. Sistem mata pencaharian hidup,
  7. Sistem teknologi dan peralatan.
Dari wujud dan unsur kebuayaan universal tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang merupakan ruang lingkup dan isi kebudayaan. Kebudayaan merupakan aktivitas akal untuk menciptakan sesuatu yang memudahkan kehidupan. Kebudayaan mengatur masyarakat, tanpa masyarakat kebudayaan tidak akan pernah ada, karena di dalamnya kebudayaan bersemi, tumbuh, berkembang dan berubah-ubah sesuai dengan dinamika bermasyarakat.
Jadi, kebudayaan merupakan seluruh aspek kehidupan manusia yang saling berkaitan dengan wujud dan unsur universal. Sementara Borton M. Schwartz yang di kutip oleh Bambang Mintargo menulis definisi kebudayaan sebagai berikut:
a)      Definisi enumirative, yaitu Kebuayaan ataupun peradaban dilihat dari pemikiran etnografik, kompleks keseluruhan meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lainnya serta kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat.
b)      Definisi historis, yaitu definisi yang menekankan padawarisan sosial atau tradisi. Definisi ini menekankan kebudayaan adalah sesuatu yang turun temurun dari generasi ke generasi lainnya. Menurut Malinowski menulis kebudayaan berisikan artefak yang diwariskan, barang-barang proses teknik, pemikiran, kebiasaan dan nilai.
c)      Definisi normative, yaitu rumusan definisi yang menekankan aturan-aturan masyarakat atau pola-pola tingkah laku sosial. Menurut Firth menyatakan “tindakan-tindakan batas individu sebagai anggota masyarakat. Jumlah keseluruhan dari cara bertingkah laku ini merupakan sebuah kebudayaan.
Dari definisi tersebut, menunjukkan bahwa kebudayaan sebagai alat untuk mempertahankan dn melanjutukan eksistensinya. Nilai budaya Indonesia mencerminkan niali leluhur bangsa yang selalu dibina dan dikembangkan untuk memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk menumbuhkembangkan kebudayaan bangsa yang berkepribadian dan berkesadaran nasional sekaligus dapat mencegah nilai-nilai sosial-budaya yang bersiafat feodal dan kedaerahaan sempit serta mengeliminir pengaruh negatif kebudayaan asing. Masyarakat diharapkan mampu menyaring dan menyerap niali-nilai dari luar yang positif untuk pembangunan nasional.       
      

Profile My Blog

About Dik's

Mengenai Saya

Foto saya
Assalamu'alaikum..... My Name is Andika Tri Murti, University Gunadarma

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.