PERBEDAAN KARYA TULIS ILMIAH, KARYA TULIS POPULER, DAN KARYA TULIS NON-ILMIAH

DEFINISI KARYA TULIS
Karya tulis mempunyai banyak ragam tergantung dari tujuan, manfaat, sumber penulisan, dan aspek-aspek lainnya. Berdasarkan sumbernya, secara umum karya tulis dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu karya fiksi (tidak ilmiah) dan non fiksi (ilmiah). Karya fiksi merupakan karya tulis yang sumbernya semata-mata imajinasi, fantasi, atau rekaan dari si penulis. Tujuan orang menulis fiksi biasanya untuk menghibur atau bisa jadi untuk mengungkapkan isi hati penulis. Karya sastra merefleksikan situasi masyarakat tertentu. Contoh dari karya tulis jenis ini adalah karya sastra: novel, cerpen, puisi, dan lain-lain.
KARYA TULIS ILMIAH
Menurut Brotowidjojo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya / keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).
KONSEP DASAR
Karya tulis ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.
CIRI-CIRI KARYA TULIS ILMIAH
·       Menyajikan fakta objektif secara sistematis.
·       Penulisannya cermat, tepat, dan benar serta tulus.
·       Tidak mengejar keuntungan pribadi,
·       Sistematis, terkendali, konseptual, dan prosedural.
·       Tidak emotif (tidak menonjolkan perasaan).
·       Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung (kecuali hipotesis kerja).
·       Memuat kebenaran-kebenaran.
·       Tidak argumentatif.
·       Tidak persuasif.
·       Tidak melebih-lebihkan sesuatu.


JENIS KARYA TULIS ILMIAH

Abstrak                                Laporan eksekutif                    Risalah                                
Ringkasan                            Tanggapan                               Kolokium
Ikhtisar                                 Kertas kerja                             Studi Kasus
Tinjauan buku                      Makalah proyek                       Laporan Penelitian     
Kritik                                    Laporan Kegiatan                    Skripsi
Makalah pemikiran              Laporan status                          Tesis
Laporan analisis                   Laporan Kepustakaan              Disertasi
Makalah pendirian               Rekaman Fakta
Makalah opini                      Makalah Ilmiah

Pada prinsipnya semua karya ilmiah yaitu hasil dari suatu kegiatan ilmiah. Dalam hal ini yang membedakan hanyalah materi, susunan, tujuan, serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah tersebut. Secara garis besar, karya ilmiah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian.

1.        Karya Ilmiah Pendidikan
Karya ilmiah pendidikan digunakan tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan. Karya ilmiah pendidikan terdiri dari:
·         Paper (Karya Tulis)
·         Pra Skripsi
·         Skripsi
·         Thesis
·         Disertasi
 
2.        Karya ilmiah Penelitian.
a.       Makalah seminar.
·      Naskah Seminar
Karya ilmiah yang barisi uraian dari topik yang membahas suatu permasalahan yang akan disampaikan dalam forum seminar. Naskah ini bisa berdasarkan hasil penelitian pemikiran murni dari penulisan dalam membahas atau memecahkan permasalahan yang dijadikan topik atau dibicarakan dalam seminar.
·      Naskah Bersambung
Naskah Bersambung sebatas masih berdasarkan ciri-ciri karya ilmiah, bisa disebut karya tulis ilmiah. Bentuk tulisan bersambung ini juga mempunyai judul atau title dengan pokok bahasan (topik) yang sama, hanya penyajiannya saja yang dilakukan secara bersambung, atau bisa juga pada saat pengumpulan data penelitian dalam waktu yang berbeda.
b.      Laporan hasil penelitian
c.       Jurnal penelitian
PRINSIP KARYA TULIS ILMIAH
·         Spesifik
·         Kesinambungan
·         Bernas (bahasa)
·         Koherens
·         Memiliki daya tarik
·         Jujur
SISTEMATIKA PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH
1.        Bagian pengantar
·       Halaman judul
·       Lembar pengesahan
·       Pengantar
·       Daftar isi
·       Daftar table
·       Daftar gambar
·       Daftar lampiran
·       Abstrak

2.        Isi Karya tulis ilmiah
Bab I. Pendahuluan
Latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, asumsi, dan hipotesis).
Bab II. Kajian Teoretis
Bab III. Metodologi Penelitian / Prosedur Penelitian
Tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, teknik pengambilan contoh / sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
Bab IV. Pembahasan dan Hasil Penelitian
Deskripsi variabel penelitian, pengujian persyaratan analisis, pengujian hipotesis, penafsiran, kesimpulan pengujian hipotesis.
Bab V. Kesimpulan, Implikasi, dan Saran

3.        Bagian Pelengkap
·       Daftar pustaka
·       Lampiran-lampiran
·       Riwayat hidup peneliti

ISU-ISU PENJAS UNTUK KARYA TULIS ILMIAH
1.        Cara mencapai kebugaran jasmani
2.        Cara mencapai hidup aktif
3.        Cara mencapai kesejahteraan paripurna
4.        Upaya meningkatkan kulitas hidup manusia
5.        Wahana pengembangan kemampuan kognitif
6.        Wahana pengembangan neuromuskular
7.        Dan lain-lain.
KARYA TULIS POPULER
Karya tulis ilmiah populer merupakan karya ilmiah yang bentuk, isi, dan bahasanya menggunakan kaidah-kaidah keilmuan, serta disajikan dalam bahasa yang santai dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Slamet Suseno (dalam Dalman, 2012: 156) mengemukakan bahwa karya tulis ilmiah populer lebih banyak diciptakan dengan jalan menyadur tulisan orang lain daripada dengan jalan menulis gagasan, pendapat, dan pernyataannya sendiri. Karya ilmiah populer adalah karangan ilmiah yang berisi pembicaraan tentang ilmu pengetahuan dengan teknik penyajian yang sederhana mengenai hal-hal kehidupan sehari-hari.
Karya tulis ilmiah populer adalah karya tulis yang berpegang kepada standar ilmiah, tetapi ditampilkan dengan bahasa umum yang mudah dipahami oleh masyarakat awam dan layout yang menarik sehingga masyarakat lebih tertarik untuk membacanya. Karya tulis ilmiah populer lebih banyak diciptakan dengan jalan menyadur, mengutip, dan meramu informasi dari berbagai tulisan orang lain, daripada menulis murni gagasan, pendapat, dan pernyataan sendiri. Artinya, karya tulis ilmiah populer lebih cocok disebut sebagi tulisan daripada karangan. Seperti yang dipaparkan diatas, secara otomatis akan ada proses reduksi makna ilmiah dari makna aslinya ketika digandengkan dengan kata populer. Namun meski mengalami reduksi, kata-kata ilmiah tetap menggambarkan pertanggungjawaban penulisnya secara ilmiah dengan pencantuman sumber rujukan.
CIRI-CIRI KARYA TULIS ILMIAH POPULER
Karya ilmiah (Dalman, 2012:113-114) memiliki ciri-ciri yang dapat dikaji minimal dari empat aspek, yaitu:
1.      Struktur
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal, bagian inti, dan bagian penutup.
2.      Komponen dan substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka.
3.      Sikap penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan kata atau gaya bahasa impersonal .
4.      Penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata atau istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.

Sementara itu menurut Wardani (2006 : 1.6) ciri-ciri karya Ilmiah yaitu:
·         Dari segi isi, karya ilmiah menyajikan pengetahuan yang dapat berupa gagasan, deskripsi tentang sesuatu atau pemecahan suatu masalah.
·    Pengetahuan yang disajikan tersebut didasarkan pada fakta atau data (kajian empirik) atau pada teori-teori yang telah diketahui kebenaranya.
·         Sebuah karya ilmiah mengandung kebenaran yang objektif serta kejujuran dalam penulisan.
·        Bahasa yang digunakan adalah bahasa baku dan banyak menggunakan istilah teknis, disamping istilah yang bersifat denotatif
·         Sistematika penulisan mengikuti cara tertentu.
Sedangkan ciri-ciri karya ilmiah populer menurut Hakim (2004 : 57) diurutkan sebagai berikut:
·         Bahan berupa fakta yang objektif.
·         Penyajian menggunakan bahasa yang cermat, tidak terlalu formal tapi tetap taat asas, disusun secara sistematis, tidak memuat hipotesis.
·         Sikap penulis tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang meragukan.
·         Penyimpulan dilakukan dengan memberikan fakta.
PERBEDAAN ANTARA KARYA TULIS ILMIAH POPULER DENGAN KARYA TULIS ILMIAH MURNI
Perbedaan antara ilmiah populer dengan ilmiah murni (skripsi, tesis, desertasi, dan lain-lain) terletak pada bahasa penyampaian yang digunakan. Karya tulis ilmiah murni ditampilkan dalam bahasa baku dan sangat terikat dengan kaidah bahasa Indonesia resmi. Sementara ilmiah populer ditampilkan dengan bahasa yang lebih luwes, serta dapat dipahami masyarakat umum.
Dari segi topik bahasan, tulisan ilmiah populer cenderung membahas permasalahan yang berkaitan dengan masyarakat disekitarnya. Berbeda dengan karya tulis ilmiah murni yang lebih sering berkutat dalam bidang ilmiah yang jauh dari jangkauan masyarakat awam.
KARYA TULIS NON-ILMIAH
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subjektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).




CIRI-CIRI KARYA TULIS NON-ILMIAH
·          Ditulis berdasarkan fakta pribadi
·          Fakta yang disimpulkan subjektif
·          Gaya bahasa konotatif dan popular
·          Tidak memuat hipotesis
·          Penyajian disertai dengan sejarah
·          Bersifat imajinatif
·          Situasi didramatisir
·          Bersifat persuasive
·          Tanpa dukungan bukti
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah adalah dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman.
PERBEDAAN KARYA ILMIAH DENGAN NON-ILMIAH
Istilah karya ilmiah dan non-ilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan non-fiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun non-ilmiah / fiksi dan non-fiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek:
1.      Pertama, karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri.
2.      Kedua, karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
3.      Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.



Karya non-ilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan non-ilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subjektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis.
SIFAT KARYA NON-ILMIAH
1.      Emotif
Kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
2.      Persuasif
Penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
3.      Deskriptif
Pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
4.      Jika kritik ada kalanya tanpa dukungan bukti.
SIKAP ILMIAH
Sikap ilmiah adalah sikap tertentu yang diambil dan dikembangkan oleh ilmuwan untuk mencapai hasil yang diharapkan (Iskandar, 1996/1997: 11).
Sikap-sikap ilmiah meliputi:
1.      Obyektif terhadap fakta artinya menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang. Contoh: Seorang peneliti menemukan bukti pengukuran volume benda 0,0034 m3, maka ia harus mengatakan juga 0,0034m3, padahal seharusnya 0,005m3.
2.      Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang mendukung kesimpulan itu. Contoh: Ketika seorang ilmuwan menemukan hasil pengamatan suatu burung mempuyai paruh yang panjang dan lancip, maka dia tidak segera mengatakan semua burung paruhnya panjang dan lancip, sebelum data-datanya cukup kuat mendukung kesimpulan tersebut.
3.      Berhati terbuka artinya bersedia menerima pandangan atau gagasan orang lain, walaupun gagasan tersebut bertentangan dengan penemuannya sendiri. Sementara itu, jika gagasan orang lain memiliki cukup data yang mendukung gagasan tersebut maka ilmuwan tersebut tidak ragu menolak temuannya sendiri.
4.      Tidak mencampuradukkan fakta dengan pendapat. Contoh: Tinggi batang kacang tanah di pot A pada umur lima hari 2 cm, yang di pot B umur lima hari tingginya 6,5 cm. Orang lain mengatakan tanaman kacang tanah pada pot A terlambat pertumbuhannya, pernyataan orang ini merupakan pendapat bukan fakta

5.      Bersikap hati-hati. Sikap hati-hati ini ditunjukkan oleh ilmuwan dalam bentuk cara kerja yang didasarkan pada sikap penuh pertimbangan, tidak ceroboh, selalu bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan, termasuk didalamnya sikap tidak cepat mengambil kesimpulan. Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan penuh kehati-hatian berdasarkan fakta-fakta pendukung yang benar-benar akurat.
SIKAP ILMIAH SEORANG ILMUWAN
1.      Tidak ada rasa pamrih
2.      Selektif
3.      Kredibilitas
4.      Ada kegiatan rutin mengembangkan ilmu
5.      Punya sikap etis mengembangkan ilmu

Sumber :
http://irvan-caraka.blogspot.com/2014/04/perbedaan-karya-tulis-ilmiah-karya_7.html
http://kentangbegadang.blogspot.com/2014/04/karya-ilmiah.html
http://yodiahadishtis.blogspot.com/2013/03/perbedaan-karya-tulis-ilmiah-karya.html

Penalaran Induktif

Penalaran Induktif adalah penalaran yang mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk kemudian diambil kesimpulan yang lebih umum. penalaran ini memudahkan untuk memetakan suatu masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang serupa. Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang umum.
Penalaran Induktif dapat dilakukan dengan tiga cara:
a. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu. Contoh : Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan bayinya, sebagai ungkapan rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.
Macam-macam generalisasi :
1.      Generalisasi sempurna: Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Contoh: sensus penduduk
2.      Generalisasi tidak sempurna: Generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantaloon.
b. Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Analogi dilakukan karena antara sesuatu yang diabandingkan dengan pembandingnya memiliki kesamaan fungsi atau peran. Melalui analogi, seseorang dapat menerangkan sesuatu yang abstrak atau rumit secara konkrit dan lebih mudah dicerna. Analogi yang dimaksud adalah anlogi induktif atau analogi logis. Contoh analogi : Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran. Jenis-jenis Analogi:
1. Analogi induktif :
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh analogi induktif :
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
2. Analogi deklaratif :
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
contoh analogi deklaratif :
deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.

c.  Hubungan kausal
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hubungan kausal (kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Macam hubungan kausal :
1.  Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor.
 2. Akibat – Sebab.
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
3.  Akibat – Akibat.
Contoh:Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya korban kecelakaan.

sumber :


Penalaran Deduktif

       Pengertian Penalaran Deduktif
Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi atau suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Jadi, kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif terebut dapat dimulai dai suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit.
a.   Macam – Macam Penalaran Deduktif diantaranya
-       Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan. Contohnya:  -  Semua manusia akan mati
-   Amin adalah manusia
·         Jadi, Amin akan mati (konklusi / kesimpulan)
Adapun Silogisme dapat di bedakan menjadi 3 bagian diantaranya
1. Silogisme Kategorial
Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus : Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

2. Silogisme Hipotesis
Silogisme Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis : Bila premis minornya membenarkan anteseden, kesimpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, kesimpulannya juga menolak konsekuen.

3. Silogisme Alternatif
Silogisme Alternatif : Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
-       Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh :
-     Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
-     Pada malam hari tidak ada matahari
-     Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis
Rantai Deduksi
Penalaran yang deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimem. Orang tidak berhenti pada sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula berupa merangkaikan beberapa bentuk silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.
Contoh :
a. Semua plecing kangkung pedas rasanya. (hasil generalisasi)
Kali ini saya diberi lagi plecing kangkung.
Sebab itu, plecing kangkung ini juga pasti pedas rasanya. (deduksi)
Saya tidak suka akan makanan yang pedas rasanya. (induksi: generlisasi)
Ini adalah plecing kangkung pedas.
Sebab itu, saya tidak suka plecing kangkung ini. (deduksi)
Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya senangi (induksi:generalisasi)
Saya tidak suka makanan ini.
Sebab itu saya tidak memakannya. (deduksi)
b. Semua jamu pahit rasanya. (hasil generalisasi)
Kali ini saya diberi lagi jamu.
Sebab itu, jamu ini juga pasti pahit rasanya. (deduksi)
Saya tidak suka akan minuman yang pahit rasanya. (induksi: generlisasi)
Ini adalah jamu pahit.
Sebab itu, saya tidak suka jamu ini. (deduksi)
Saya tidak suka minum apa saja, yang tidak saya senangi (induksi:generalisasi)
Saya tidak suka minuman ini.
Sebab itu saya tidak meminumnya. (deduksi)

 Daftar Pustaka


Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti penuh, serta mempunyai nilai benar atau salah, dan tidak boleh kedua-duanya. Maksud dari kedua-duanya ini adalah dalam suatu kalimat proposisi standar tidak boleh mengandung 2 pernyataan benar dan salah sekaligus.
Proposisi dibagi menjadi 4 jenis :
1. Bentuk: Tunggal dan jamak.
2. Sifat: kategorial dan kondisional.
3. Kualitas: Afirmatif/positif dan negative.
4. Kuantitas: Universal dan spesifik/khusus.
Infrensi adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.
Implikasi adalah hubungan keterlibatan atau keadaan yang terlibat dalam kepentingan umum maupun kepentngan pribadi pada masyarakat.
Evidensi adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatau fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris.
Cara menguji data, fakta dan autoritas
Cara menguji data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas
Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi
Cara menguji autoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan
Sumber : http//wikipedia.com


Outline

Judul Penulisan Ilmiah

PENGEMBANGAN APLIKASI CONTENT MANAGEMENT SYSTEM UNTUK MOBILE LEARNING BAGI PENGAJAR BERBASIS JAVA

Latar Belakang

Fenomena ini akan semakin menguat mengingat teknologi ke depan akan semakin kompleks, powerfull, dan terjangkau secara ekonomi. Sebagai contoh paling populer, internet kini sudah menjadi kebutuhan penting bagi siapa pun yang terlibat dalam aktifitas pendidikan dan pelatihan, baik sebagai media maupun sumber belajar.
Hal yang sama pun terjadi pada teknologi bergerak (mobile technology). Perkembangan baik dalam hal jaringan (Wi-Fi, 3G, WiMAX) maupun peralatan (smart phones, pocket PCs, tablet PCs, serta PDA) telah menyebabkan teknologi ini berkembang cepat. Memang, penggunaan telepon bergerak selama ini masih terfokus pada kegiatan seperti menelpon, mengirim sms, mendengarkan musik, menonton video, serta mengelola agenda pribadi. Tetapi belakangan, telepon bergerak maupun peralatan bergerak lainnya seperti smart phone dan PDA mulai dieksplorasi penggunaannya untuk kepentingan pembelajaran. Dengan sifat fleksibilitas dan personalnya, peralatan bergerak tersebut dianggap dapat melahirkan model belajar baru, yang kemudian dikenal dengan mobile learning.
Judul yang penulis angkat adalah “Pengembangan Aplikasi Content Management System untuk Mobile Learning Bagi Pengajar Berbasis Java”. Diharapkan penelitian ini akan mempermudah pengajar dalam memberikan materi belajar tambahan maupun soal latihan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dalam belajar.

Lokasi

Pusat Data Teknik informatika Fakultas Sains dan Teknologi (PUSDATIN FST).

Rumusan Masalah

Masalah yang dapat dirumuskan dalam tugas akhir ini sebagai berikut :
1.      Bagaimana mengembangkan sebuah aplikasi Content Management Sistem untuk mobile learning yang diperlukan bagi pengajar.
2.      Bagaimana membuat aplikasi web Content Management Sistem untuk mobilelearning yang dapat diakses melalui telepon genggam.

Batasan Masalah

Adapun batasan masalah untuk skripsi ini antara lain:
1.      Mobile learning berperan sebagai pendamping untuk sistem belajar yang ada.
2.      Pengguna memerlukan handphone memiliki mobile browser untuk mengakses sistem ini.

Tujuan Penelitian

Untuk mempermudah pengajar dalam memberikan materi belajar maupun soal latihan tanpa terbatas oleh ruang dan waktu sehingga diharapkandapat meningkatkan efektifitas dalam belajar.

Metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :
Pengumpulan data

a. Wawancara

b. Studi Pustaka


Kalimat Efektif

Tolak Kriminalisasi Terhadap Dokter

Seringkali dokter dihadapkan pada keadaan ketidakpastian dan kegawat-daruratan kondisi pasien yang secara medis sangat kecil harapan untuk bisa tertolong. Dokter secara etika dan profesional tetap memiliki kewajiban dalam berupaya semaksimal mungkin dan sebaik-baiknya dengan segala kemampuan dan keahlian yang dimilikinya untuk memberikan pertolongan terhadap pasien.
Terkadang pertolongan dokter tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien atau meninggalkan kecacatan pada diri pasien. Kejadian tersebut, justru menimbulkan tudingan bahwa dokter telah melakukan kesalahan dikarenakan tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien ataupun karena tidak berhasil menyembuhkan pasien secara sempurna tanpa ada kecacatan sidikitpun.
Dalam kasus penangkapan Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara pada tanggal 8 November 2013 lalu, berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 365/K/Pid/2012 dapat menimbulkan keresahan, keraguan dan ketidaktenangan di antara kalangan dokter dalam menunaikan tugasnya yang disebabkan adanya kekhawatiran dengan tuntutan dan kriminalisasi dokter.
Dalam kasus yang dialami oleh dokter spesialis kandungan Dewa Ayu (38) dijatuhi hukuman pidana penjara selama 10 bulan.  Dokter Ayu dan kedua dokter kandungan lainnya yaitu dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian dinyatakan bersalah melakukan malapraktek terhadap Julia Fransiska Makatey (25).
Dalam konfrensi pers yang bertema "Menguak Kriminalisasi dokter di Indonesia" Dr. N. Nazar, SpB (K) Trauma, FINACS, MH.Kes. menjelaskan, bahwa ketiga dokter tersebut menurut Mahkamah Agung melanggar Pasal 359 KUHP. Ketiga terdakwa melakukan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban.
"Pemahaman penyidik, penuntut umum dan hakim terhadap pekerjaan dokter melakukan teknis medis sangat minim dan subjektif," ujar Dr. N. Nazar, SpB (K) Trauma, FINACS, MH.Kes saat konfrensi saat di Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2013).
Dokter Nazar menambahkan, "Pengabaian fakta-fakta yang ditemukan selama penyidikan dalam persidangan baik dari saksi-sakti maupun tersangka serta ketidaktepatan penggunaan pasal-pasal dalam KUHP maupun KUHAP."
Di samping itu, PB POGI melalui surat No. 015/KU/VIII/13 tertanggal 13 Juli 2013 telah mengajukan kepada Kejaksaan Agung RI untuk permohonan penangguhan penahanan yang dialami ketiga dokter kandungan tersebut.


 Koreksi

Seringkali dokter dihadapkan pada keadaan ketidakpastian kondisi pasien yang secara medis sangat kecil harapan untuk bisa tertolong. Dokter secara etika dan profesional tetap memiliki kewajiban dalam berupaya semaksimal mungkin serta sebaik-baiknya dengan segala kemampuan dan keahlian yang dimilikinya untuk memberikan pertolongan terhadap pasien.
Terkadang pertolongan dokter tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien atau meninggalkan kecacatan pada diri pasien. Kejadian tersebut, justru menimbulkan tudingan bahwa dokter telah melakukan kesalahan dikarenakan tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien ataupun tidak berhasil menyembuhkan pasien secara sempurna tanpa ada kecacatan sidikitpun.
Dalam kasus penangkapan Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara pada tanggal 8 November 2013 lalu, berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 365/K/Pid/2012 dapat menimbulkan keresahan, keraguan dan ketidaktenangan di antara kalangan dokter dalam menjalankan tugasnya yang disebabkan adanya kekhawatiran dengan tuntutan dan kriminalisasi dokter.
Dalam kasus yang dialami oleh dokter spesialis kandungan Dewa Ayu (38) dijatuhi hukuman pidana penjara selama 10 bulan.  Dokter Ayu dan kedua dokter kandungan lainnya yaitu dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian dinyatakan bersalah melakukan malapraktek terhadap Julia Fransiska Makatey (25).
Dalam konfrensi pers yang bertema "Menguak Kriminalisasi dokter di Indonesia" Dr. N. Nazar, SpB (K) Trauma, FINACS, MH.Kes. menjelaskan, bahwa ketiga dokter tersebut menurut Mahkamah Agung melanggar Pasal 359 KUHP. Ketiga terdakwa melakukan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban.
"Pemahaman penyidik, penuntut umum dan hakim terhadap pekerjaan dokter melakukan teknis medis sangat minim dan subjektif," ujar Dr. N. Nazar, SpB (K) Trauma, FINACS, MH.Kes saat konfrensi saat di Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2013).
Dokter Nazar menambahkan, "Pengabaian fakta-fakta yang ditemukan selama penyidikan dalam persidangan baik dari saksi-sakti maupun tersangka serta ketidaktepatan penggunaan pasal-pasal dalam KUHP maupun KUHAP."
Di samping itu, PB POGI melalui surat No. 015/KU/VIII/13 tertanggal 13 Juli 2013 telah mengajukan kepada Kejaksaan Agung RI untuk permohonan penangguhan penahanan yang dialami ketiga dokter kandungan tersebut

Analisa

Dan Kegawat-daruratan = Seharusnya kata ini tidak dipergunakan karena sebelum kata Dan Kegawat-daruratan ada kata Ketidakpastian yang sudah mencakup dari pemberitahuan dari informasi ini
Dan = Kata “Dan” seharusnya di ganti oleh kata serta
Karena = seharusnya kata karena tidak boleh gunakan karena di depan kata karena sudah menjelaskan dengan kata ataupun

Menunaikan = Kata menunaikan seharusnya di gantikan oleh kata menjalankan.

Sosial Media Sebagai Alat Kampanye Di Pemilu 2014



     Tahun 2014 Bangsa Indonesia tidak lama lagi akan menghadapi suatu peristiwa politik yang sangat penting dalam proses rekrutmen pimpinan nasional, yang di masa lalu dikenal sebagai pesta demokrasi.
    Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 yang mencakup pemilu legislatif dan pemilu presiden adalah jalan masuk untuk melahirkan elit-elit politik yang tentu saja diharapkan berasal dari kalangan masyarakat yang punya integritas sangat tinggi. Mereka yang akan terpilih adalah tokoh-tokoh yang akan menentukan jalannya sejarah politik sosial ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan serta masa yang akan datang.
   Apa yang harus dipersiapkan untuk menghasilkan para elit politik yang menjunjung etika dan menerapkan prinsip-prinsip demokrasi yang sesuai dengan nilai-nilai yang berketuhanan, berkemanusiaan, menjunjung persatuan, mengutamakan hikmat kebijaksanaan dan berkeadilan sosial tersebut
    Ada tiga faktor penentu dalam upaya menghasilkan para elit politik yang berkarakter. Yang paling penting adalah sejauh mana kesanggupan para pemilih Indonesia jeli menentukan pilihannya pada sosok yang berkarakter tersebut. Yang kedua adalah Partai Politik, yang menawarkan para elit politik mereka dalam persaingan menuju Pemilu 2014 itu. Yang ketiga adalah media massa, dan untuk era digital sekarang ini ditambah lagi yakni media sosial.
   Poin pertama, yang menyangkut kesanggupan pemilih menentukan pilihannya dalam menghasilkan elit yang berintegritas tinggi sangatlah vital. Kesanggupan semacam ini bisa diharapkan dengan mudah untuk lingkungan masyarakat terdidik. Mereka punya akses informasi yang lebih luas sehingga mereka dapat melihat rekam jejak para calon elit politik yang akan berlaga dalam Pemilu 2004.
  Dengan berbagai media massa dan sumber informasi yang tersedia, pemilih dapat memilih dan memilah mana calon elit politik yang berkarakter dan yang mencitrakan diri sebagai calon berkarakter padahal dalam diri sejatinya tak lebih dari politisi yang transaksional belaka. Maksudnya, mereka berkompetisi dalam pemilu 2014 tak lebih untuk meraih kekuasaan semata, untuk melanggengkan posisi mereka dalam lingkungan elit yang mereka nikmatidi masa yang akan datang.
Oleh sebab itu, salah satu strategi untuk mengelak dari terkecoh adalah menelusuri rekam  jejak perjalanan karir elit bersangkutan. Pemilih yang melek informasi akan terhindar dari elit yang berlomba mengeluarkan dana besar menjelang persaingan dalam Pemilu 2014. Dengan demikian, untuk menentukan elit politik yang berintegritas tinggi tidak cukup hanya membaca atau mengakses informasi terkini tentang apa sepak terjang elit bersangkutan menjelang Pemilu 2014.
  Bagi pemilih yang belum sanggup mengakses informasi tentang rekam jejak elit yang bersaing dalam Pemilu 2014, situasinya mungkin agak merepotkan. Mereka biasanya dari kalangan bukan terpelajar, baik yang tinggal di perkotaan maupun perdesaan. Dalam kondisi yang demikian, pendidikan politik sangatlah diperlukan. Masalahnya, pendidikan politik menjelang pemilu sering berkelit dan dengan aktivitas kampanye tersembunyi. Memang yang ideal adalah pendidikan politik jangka panjang, yang dilakukan lembaga pendidikan dan kalangan independen yang jauh dari momentum pemilu.
  Faktor penentu kedua dalam penentu lahirnya elit berintegritas tinggi adalah institusi partai politik.  Ada indikasi positif saat ini bahwa berbagai partai politik melakukan rekruitmen elitnya melalui iklan di media massa. Sekalipun tak ada jaminan bahwa strategi ini menghasilkan elit yang diidealkan, setidaknya ada keterbukaan untuk menerima para kandidat lewat mekanisme yang transparan. Hanya setelah melihat hasil Pemilu 2014 lah strategi seperti ini bisa dibuktikan keampuhannya dalam menghasilkan elit yang selektif dan sesuai dengan harapan pemilih. Partai politik sebagai lembaga yang menyediakan figur-figur politiknya dalam Pemilu 2014 punya andil besar dalam mempersiapkan bangsa yang dipimpin oleh elit berkarakter pasca-Pemilu 2014.
  Faktor ketiga penentu lahirnya elite berintegritas tinggai lewat Pemilu 2014 adalah media massa dan media sosial. Yang perlu diwaspadai pada media massa setiap menjelang pemilu adalah hegemoni kekuatan ekonomi dalam persaingan politik. Media massa baik cetak maupun elektronik tentulah akan diwarnai oleh pesan-pesan sponsor, baik yang dikemas dalam iklan politik maupun pesan politik terselubung.
  Fenomena iklan politik saat ini tak perlu dicemaskan karena ada penangkalnya berupa tayang bincang para pengamat, pakar dan praktisi politik yang bisa dijadikan wahana pendidikan politik bagi para pemilih. Pada titik inilah media massa diharapkan mengadirkan acara tayang bincang dengan narasumber yang berimbang sehingga melahirkan informasi yang seimbang pula bagi para pemirsanya.
  Peran media sosial juga akan semakin signifikan karena penggalangan dukungan lewat media ini terbukti memperlihatkan sukses besar untuk para politisi yang selama ini berkompetisi lewat pilkada di Tanah Air maupun pemilihan presiden di mancanegara.
  Dan media sosial saat ini dapat dijadikan kekuatan alternatif yang dapat mengimbangi pemberitaan media massa yang tidak independen. Sosial media sebagai wujud peran aktif masyarakat dalam arus informasi yang penggunanya terus meningkat menjadi secercah harapan ditengah arus besar perang media yang tidak mencerahkan. Masyarakat takkanlagi dengan mudah ditipu dan dibodohi dengan pemberitaan yang bombastis dari media-media besar karena telah mempunyai media penyeimbang sebagai filter informasi. Sosial media memberikan kesempatan yang sama kepada siapapun untuk membagi serta mendapatkan berita atas sebuah fenomena yang sedang terjadi. Setiap orang bisa mengutarakan pendapat, berdebat hingga memberikan informasi yang benar kepada sesama. Dari aspek jangkauan pesan yang tersampaikan pun, media sosial memperlancar apapun format hubungan yang dibangun, selain tentunya, bagaimana komunikasi diproduksi, direproduksi, dimediasi, dan diterima.
  Kekuatan sosial media telah terbukti kesaktiannya. Sosial media kemudian menjelma menjadi salah satu instrumen kontrol terhadap pemerintahan yang berkuasa, dengan menggunakan fasilitas internet tentunya. Masih hangat dalam pikiran kita bagaimana dukungan masyarakat kepada KPK dalam kasus Cicak vs Buaya jilid I dan II yang kemudian berakhir bahagia karena dukungan masyarakat yang dikumpulkan melalui sosial media berbasis jejaring, yaitu Facebook dan Twitter. Dukungan publik untuk Prita Mulyasari juga digalang melalui sosial media. Yang paling anyar adalah berita tentang Tasripin di Twitter yang berhasil menyita perhatian publik hingga Presiden SBY memberikan bantuan untuknya. Kembali sosial media memiliki peranan besar.
  Melalui sosial media, sikap politik anak muda sesungguhnya bisa terbentuk. Sosial media bisa dijadikan sebagai sarana pembelajaran politik menjelang pemilu 2014. Sifat sosial media yang independen, bebas dan tanpa batas, memungkinkan anak muda dapat berinteraksi langsung dalam fenomena politik yang sedang terjadi. “celotehan” anak muda disosial media sebetulnya terus dipantau oleh elit negara serta dijadikan bahan rujukan dalam mengambil sikap politik. Kampanye secara massif dan terus menerus di jejaring sosial juga akan berdampak perilaku pemilih pada pemilu mendatang. Anak muda tentunya bisa langsung berinteraksi dengan celeg ataupun calon presiden yang sedang mereka bidik. Tentunya interaksi tersebut bisa berupa pendapat, saran atau bahkan kritikan tajam.
  Kita semua berharap, pemilu 2014 akan melahirkan pemimpin yang berintegritas tinggi serta amanah. Partisipasi anak muda tentu saja diharapkan kehadirannya. Media massa didambakan menjadi sarana pelepas dahaga informasi public, tentunya dengan berita yang jujur, fair dan bebas kepentingan. Namun, bila media konvensional masih belum bisa dipercaya, ada baiknya kita menggunakan sosial media sebagai kekuatan penyalur informasi alternatif untuk memberikan pendidikan politik bagi anak muda menjelang pemilu 2014. Tampaknya, ketiga faktor itulah yang akan ikut mewarnai jalannya persaingan politik tingkat nasional yang berlangsung tahun depan. Gegap gempita di saat itu, yang kan menyerap anggaran negara yang cukup besar diharapkan memberikan hasil yang sebanding, yakni tampilnya para elit dengan karakter yang beretika.
  Kenyataan pada saat ini partai politik benar-benar mempromosikan para calonnya yang akan maju di Pemilu 2014 dengan menggunakan media massa ataupun media sosial. Di karenakan para calon legislatif mengetahui dan mengincar para pemilih ataupun pemilih pemula yang ada di Indonesia dan lebih banyak mengakses internet daripada dengan memasang atribut spanduk yang ada di sepanjang jalan. Akan tetapi kenyataannya KPU belum menerbitkan peraturan  tentang tata cara kampanye di media sosial melainkan Kpu menerbitkan tentang Peraturan KPU Nomor I Tahun 2013 dan Undang-Undang Nomor: 8 Tahun 2012 tentang Pemilu hanyalah kampanye di tempat umum dan kampanye di media massa.
  Dan solusi tentang kampanye di media sosial, Pemerintah melalui KPU  Pusat harus menerbitkan peraturan tentang tata cara berkampanye di media sosial di karenakan para elit politik mencari dukungan lewat media tersebut. Akan tetapi jika KPU tidak menerbitkan peraturan maka para elit politik bisa memanfaatkan kampanye di media sosial tersebut sebagai kampanye terselubung dan akan makin banyak elit politik yang akan memainkan peran yang hampir dengan para pesaingnya. 

Sumber 

Profile My Blog

About Dik's

Mengenai Saya

Foto saya
Assalamu'alaikum..... My Name is Andika Tri Murti, University Gunadarma

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.